Ternyata banyak hal-hal yang ditulis didalamnya berupa kesan dan
bagaimana repotnya menghadapi orang-orang di PSSI. Desy sempat menjabat
sebagai media officer tim nasional, dan beralih menjadi corporate
secretary sejak Januari 2012. Selama periode tersebut perempuan yang
sebelumnya adalah wartawati sebuah stasiun televisi swasta nasional
tersebut merasakan sendiri buruknya pengelolaan tim nasional oleh PSSI.
Tak tahan dengan kondisi tersebut, plus adanya pemotongan hak yang
dilakukan secara sepihak oleh PSSI, dia akhirnya memutuskan mundur per
Desember 2012 lalu.
Disini banyak sekali masalah yang dihadapinya:
- Soal pembayaran hotel untuk TC Timnas yang tak tuntas dalam waktu singkat karena berlarut-larut sampai sekitar bulan September.
- Persoalan administratif terkait pemain-pemain yang akan diberangkatkan ke Palestina untuk mengikuti Turnamen Al-Nakbah. Karena PSSI tidak bersikap tegas soal batas waktu pemanggilan pemain, pengurusan surat-surat keimigrasian menjadi sangat merepotkan. Apalagi izin masuk Palestina sudah sangat sulit karena harus berurusan dengan pihak Israel.
- Penambahan official bench secara tiba-tiba pada saat bertandang ke Filipina untuk menggelar laga ujicoba jelang Piala AFF. Indonesia ternyata selama ini kerap menambah orang-orang yang sebenarnya tidak kompeten untuk bisa berada di bench. Dan sebelum laga dengan Filipina, Desy diingatkan agar timnas tidak memasukkan orang selain ofisial tim ke bangku cadangan.
- Buruknya profesionalitas PSSI juga tercermin dari tidak adanya kontrak yang diterima Desy sejak dia mulai bekerja. Dengan dalih “sedang diurus” Desy bekerja hanya berdasarkan sebuah Surat Keputusan (SK).
Dan mungkin masih banyak lagi cerita yang tidak mengenakkan dengan manajemen PSSI lainnya. Semoga dengan tulisan dari Mbak Desy ini, makin terungkap semua permasalahan yang selama ini tidak diketahui masyarakat.
Sumber: detik.com
Disini banyak sekali masalah yang dihadapinya:
- Soal pembayaran hotel untuk TC Timnas yang tak tuntas dalam waktu singkat karena berlarut-larut sampai sekitar bulan September.
- Persoalan administratif terkait pemain-pemain yang akan diberangkatkan ke Palestina untuk mengikuti Turnamen Al-Nakbah. Karena PSSI tidak bersikap tegas soal batas waktu pemanggilan pemain, pengurusan surat-surat keimigrasian menjadi sangat merepotkan. Apalagi izin masuk Palestina sudah sangat sulit karena harus berurusan dengan pihak Israel.
- Penambahan official bench secara tiba-tiba pada saat bertandang ke Filipina untuk menggelar laga ujicoba jelang Piala AFF. Indonesia ternyata selama ini kerap menambah orang-orang yang sebenarnya tidak kompeten untuk bisa berada di bench. Dan sebelum laga dengan Filipina, Desy diingatkan agar timnas tidak memasukkan orang selain ofisial tim ke bangku cadangan.
- Buruknya profesionalitas PSSI juga tercermin dari tidak adanya kontrak yang diterima Desy sejak dia mulai bekerja. Dengan dalih “sedang diurus” Desy bekerja hanya berdasarkan sebuah Surat Keputusan (SK).
Dan mungkin masih banyak lagi cerita yang tidak mengenakkan dengan manajemen PSSI lainnya. Semoga dengan tulisan dari Mbak Desy ini, makin terungkap semua permasalahan yang selama ini tidak diketahui masyarakat.
Sumber: detik.com
